SLEMAN – Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Edukasi Penggunaan Rebusan Simplisia sebagai Terapi Tambahan dan Preventif pada Beberapa Penyakit Tidak Menular”. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 20 Januari 2026, bertempat di RT 05/RW 60 Karangploso, Maguwoharjo, Sleman.
Acara yang dihadiri oleh 60 anggota PKK ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes melitus, hipertensi, dan asam urat. Mengingat adanya pergeseran penyebab utama kematian di Indonesia dari penyakit infeksi ke PTM, edukasi ini menjadi sangat krusial sebagai langkah preventif bagi masyarakat.
Mendukung Pencapaian SDG’s Point 3
Kegiatan pengabdian ini merupakan wujud nyata keterlibatan mahasiswa dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDG’s) poin ke-3, yaitu *Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being)*. Melalui edukasi pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA), mahasiswa berupaya menurunkan angka risiko PTM dan memberikan alternatif terapi tambahan yang aman serta terjangkau bagi masyarakat.
Edukasi dan Praktik Langsung
Dalam sesi materi yang disampaikan oleh Amalia Daryati, peserta diberikan pemahaman mengenai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan serta rekomendasi dosis yang rasional. Tak hanya teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan simplisia kering yang dipandu oleh Aulia Wahyuni Ramadanti dan Rini Novianti. Dalam sesi materi yang disampaikan oleh Amalia Daryati, peserta diberikan pemahaman mengenai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan serta rekomendasi dosis yang rasional. Kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan simplisia kering yang dipandu oleh Aulia Wahyuni Ramadanti dan Rini Novianti.
Materi praktik meliputi:
- Proses pemanenan dan sortasi basah.
- Pencucian dan perajangan (demonstrasi pada buah mahkota dewa, rimpang kunyit, bunga telang, dan daun sirih cina).
- Teknik pengeringan, sortasi kering, hingga penyimpanan yang benar.
“Bentuk rebusan dipilih karena lebih praktis bagi warga yang memiliki jadwal kerja sibuk, serta meminimalisir residu endapan yang dapat memperberat kerja ginjal,” jelas tim mahasiswa dalam laporannya.
Antusiasme warga terlihat sangat tinggi, ditandai dengan diskusi interaktif mengenai penggunaan herbal antidiabetes dan perbandingan efek samping obat tradisional dengan obat sintesis. Sebagai bentuk apresiasi, panitia membagikan paket simplisia brotowali, meniran, dan sambiloto kepada seluruh peserta di akhir acara.
Ketua Pelaksana, Ahmad Rezky, berharap kegiatan ini dapat membangun hubungan berkelanjutan antara akademisi dan masyarakat serta memberikan dampak positif bagi kesehatan warga Karangploso secara jangka panjang. Kegiatan ini juga didampingi oleh dosen pembimbing apt. Irfan Muris Setiawan, M.Sc., Dr. apt. Adhyatmika, M.Biotech, serta Dr. Sylvia Utami Tunjung Pratiwi, M.Si.

—
Tim Pengabdian Masyarakat MIF 25 UGM:
Ahmad Rezky, Amalia Daryati, Aulia Wahyuni Ramadanti, Chatarina Rissty Dian Runtika, dan Rini Novianti.